work-ethics-and-corporate-culture-in-the-uk

Inggris bukan hanya rumah bagi pusat keuangan dunia seperti London, tetapi juga merupakan pionir dalam menetapkan standar profesionalisme global. Di balik kesuksesan berbagai perusahaan multinasional asal Britania, terdapat fondasi kuat yang dibangun di atas nilai-nilai tradisi yang dipadukan dengan efisiensi modern.ย 

Bagi para profesional yang ingin berkarier di United Kingdom (UK), memahami etika kerja dan budaya perusahaan di Inggris adalah langkah esensial untuk berintegrasi dengan sukses. Produktivitas di Inggris tidak dicapai melalui lembur yang berlebihan atau tekanan mental yang konstan, melainkan melalui sistem yang teratur, penghormatan terhadap batasan pribadi, dan komunikasi yang jujur.ย 

Artikel ini akan mengungkap rahasia di balik cara kerja orang Inggris yang membuat mereka tetap kompetitif di pasar global tanpa mengorbankan kualitas hidup.

Pilar Strategis: Mengapa Lingkungan Profesional di Inggris Mendukung Efisiensi Tinggi

Etika Kerja dan Budaya Perusahaan di Inggris

Kesuksesan organisasi di Inggris berakar pada kemampuan mereka menciptakan lingkungan yang stabil namun dinamis. Budaya perusahaan di sini dirancang untuk meminimalkan gesekan administratif dan memaksimalkan fokus pada hasil akhir. Berikut adalah enam aspek krusial yang menjelaskan mengapa budaya kerja di Inggris sangat mendukung produktivitas karyawan secara berkelanjutan.

1. Menghargai Waktu sebagai Standar Profesional

Konsistensi hadir tepat waktu di Inggris sering dipandang sebagai bentuk rasa hormat terhadap jadwal orang lain, bukan sekadar kebiasaan personal. Dalam banyak kantor, rapat didorong untuk berjalan rapi dengan agenda yang disiapkan sebelumnya, sehingga diskusi tidak melebar dan keputusan lebih cepat diambil. Kebiasaan ini membuat energi mental tim dipakai untuk menyelesaikan isu, bukan untuk menebak arah pembahasan.

Secara operasional, budaya rapat yang disiplin biasanya diikuti tindak lanjut yang jelas agar pekerjaan tidak mengendap di area โ€œmenunggu kabarโ€. Ringkasan keputusan, pembagian peran, dan tenggat yang disepakati membuat eksekusi lebih terukur. Dengan ritme seperti ini, produktivitas meningkat karena pekerjaan bergerak dari diskusi ke tindakan tanpa jeda yang tidak perlu.

2. Fokus Dijaga oleh Aturan, Bukan Dipaksa oleh Tekanan

Regulasi jam kerja di Inggris membantu membentuk ekspektasi yang realistis, sehingga produktivitas tidak dibangun di atas kelelahan. Working Time Regulations 1998 menetapkan batas rata-rata maksimal 48 jam kerja per minggu. Hal ini mendorong organisasi merencanakan kapasitas tim dengan lebih masuk akal. Selain itu, pekerja yang bekerja lebih dari 6 jam per hari umumnya berhak atas jeda istirahat tanpa putus minimal 20 menit.

Menariknya, aturan istirahat tidak hanya berbicara soal โ€œwaktu berhentiโ€, tetapi juga soal kualitas pemulihan agar karyawan kembali bekerja dengan kepala jernih. GOV.UK menjelaskan hak istirahat harian 11 jam di antara hari kerja, serta hak istirahat mingguan yang umumnya berupa 24 jam tanpa kerja setiap minggu atau 48 jam setiap dua minggu. Dengan begitu, tubuh memiliki jeda yang benar-benar utuh.

3. Produktif karena Punya โ€œRuang Bernapasโ€ yang Legal dan Normal

Hak cuti di Inggris membantu mengubah cara orang memandang pemulihan. Sebab, istirahat diposisikan sebagai bagian dari sistem kerja yang sehat. GOV.UK menyatakan bahwa sebagian besar pekerja berhak atas 5,6 minggu cuti berbayar per tahun, yang memberi kesempatan untuk pulih dari tekanan kerja dan kembali dengan energi baru. Dalam praktik budaya perusahaan yang matang, cuti tidak dibuat terasa โ€œbersalahโ€, melainkan dianggap wajar selama perencanaan kerja dilakukan rapi.

Ketika cuti dipakai secara terencana, perusahaan juga diuntungkan karena risiko kelelahan kronis dan penurunan kualitas kerja dapat ditekan. Dari sisi karyawan, kepastian bahwa cuti adalah hak berbayar membuat proses pemulihan lebih efektif. Sebab, istirahat tidak dibayangi kekhawatiran finansial.

Baca Juga: Etika Kerja dan Budaya Perusahaan di Australia yang Wajib Dipahami Profesional Asing

4. Fleksibilitas Kerja yang Terukur: Kepercayaan Diberikan, Akuntabilitas Dipertahankan

Fleksibilitas kerja di Inggris bukan sekadar tren, karena jalurnya telah disusun melalui hak untuk mengajukan kerja fleksibel secara statutory. Acas menegaskan bahwa aturan statutory flexible working requests berubah pada 6 April 2024.ย 

Hal itu termasuk perubahan yang membuat syarat masa kerja 26 minggu tidak lagi berlaku untuk pengajuan tertentu dan memperbarui mekanisme pengajuan. Melalui kerangka ini, diskusi tentang jam kerja, lokasi kerja, atau pola kerja bisa dilakukan lebih rapi dan tidak bergantung pada โ€œizin lisanโ€ semata.

Dari sisi proses, pemberi kerja diminta menangani permintaan secara wajar, termasuk melakukan konsultasi sebelum keputusan (kecuali permintaan disetujui penuh). Acas juga menyebut keputusan final, termasuk proses banding, harus diselesaikan maksimal dalam 2 bulan. Dengan begitu, karyawan tidak terjebak dalam ketidakpastian yang mengganggu fokus.

5. Ide Mengalir karena Orang Merasa Aman untuk Bicara

Suara karyawan di tempat kerja sering menjadi pembeda antara organisasi yang sekadar โ€œsibukโ€ dan organisasi yang benar-benar โ€œmajuโ€. CIPD menjelaskan bahwa employee voice berarti individu dapat menyampaikan pandangan mereka dengan aman terkait pekerjaan. Ketika voice tidak ada, kesejahteraan, komitmen, dan inovasi dapat terdampak negatif.

Agar employee voice menghasilkan produktivitas nyata, salurannya biasanya dibuat berlapis. Misalnya rapat rutin tim, survei, forum konsultatif, hingga mekanisme eskalasi yang dipercaya. CIPD juga menekankan pentingnya iklim psikologis yang aman, sehingga orang berani menyampaikan risiko, ketidakjelasan peran, atau proses yang tidak efisien tanpa takut dicap โ€œpembuat masalahโ€. Saat rasa aman ini dibangun, kualitas keputusan meningkat karena organisasi mendengar informasi yang sebelumnya tersembunyi.

6. Budaya Belajar Berkelanjutan: Kompetensi Dijaga, Perubahan Tidak Membuat Panik

Pembelajaran berkelanjutan menjadi โ€œmesin sunyiโ€ produktivitas, karena kemampuan tim diperbarui tanpa menunggu krisis. CIPD menyoroti bahwa organisasi menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan dan adopsi AI. Dengan begitu, strategi learning & development (L&D) dibutuhkan untuk menutup kesenjangan keterampilan dan menjaga keberlangsungan bisnis.

Bila individu juga mempraktikkan CPD (continuing professional development), peningkatan keterampilan menjadi lebih personal dan lebih relevan dengan peran masing-masing. CIPD mendefinisikan CPD sebagai pengalaman belajar yang membantu seseorang mengembangkan dan meningkatkan praktik profesional, termasuk menutup kekurangan kemampuan yang spesifik.ย 

CIPD juga merekomendasikan struktur CPD yang menggabungkan pembelajaran terencana dan pembelajaran โ€œdi alur kerjaโ€. Bahkan, menyarankan sekitar 30 jam per tahun untuk pembelajaran terencana agar dampaknya terasa dan bisa diterapkan.

Baca Juga: 7 Rahasia Etika Kerja dan Budaya Perusahaan di Singapura yang Membuat Produktivitas Karyawan Melejit

Akhirnya, produktivitas ala Inggris dapat dipahami sebagai hasil dari sistem yang melindungi energi manusia sekaligus menuntut eksekusi yang tertib. Ketika jam kerja, istirahat, cuti, fleksibilitas, dan keadilan prosedural saling menguatkan, budaya perusahaan menjadi lebih tenang, namun justru lebih cepat menghasilkan output berkualitas.

Downloadย Aplikasiย Transfez

Aplikasiย Transfezย bisa bantuin kamu untukย transfer uang ke luar negeriย dengan lebih cepat, hemat, dan efisien.ย Jack Financeย juga bisa bantuinย bisnisย kamu dalam melakukan transaksi ke luar negeri loh. Untuk kamu yang inginย mengirim uangย ke sanak saudara yang berada di luar negeri karena sedang menjalankan pendidikan, bekerja, ataupun traveling,ย Transfezย akan siap membantu.ย Aplikasiย ini tersedia di Android dan juga iOs. Download sekarang!

google play storeย ย 350px appstore